BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
TINJAUAN
TEORI
1.
PARITAS
a. Pengertian
Adalah
seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (Wiknjosastro,
2008). Sedangkan
pendapat lain menyebutkan paritas adalah
jumlah janin dengan berat badan lebih dari atau sama dengan 500 gram yang
pernah dilahirkan hidup maupun mati. Bila berat badan tak diketahui maka
dipakai umur kehamilan, yaitu 24 minggu (Siswosudarmo, 2008).
Paritas
mempengaruhi durasi persalinan dan insiden komplikasi. Pada multipara dominasi
fundus uteri lebih besar dengan kontraksi uterus lebih besar dengan kontraksi
lebih kuat dan dasar panggul yang lebih rileks sehingga bayi lebih mudah
melalui jalan lahir dan mengurangi lama persalinan. Namun pada grande dan multipara, semakin banyak jumlah janin,
persalinan secara progresif lebih lama. Hal ini diduga akibat keletihan pada
otot-otot uterus . Semakin tinggi paritas insiden plasenta previa, perdarahan,
mortalitas ibu dan mortalitas perinatal juga meningkat (Varney, 2008).
b. Klasifikasi
Paritas
|
9
|
1) Primipara
Adalah seorang wanita yang
telah pernah melahirkan bayi aterm sebanyak satu kali.
2) Multipara (pleuripara)
Adalah wanita yang telah
melahirkan anak hidup beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak lebih
dari lima kali.
Multipara adalah seorang
wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali
(Wiknjosastro, 2008).
3)
Grandemultipara
Adalah wanita yang telah
melahirkan janin aterm lebih dari lima kali.
4)
Nulipara
Adalah seorang wanita yang
belum pernah melahirkan bayi viable.
2.
PRE
EKLAMSI
a. Pengertian
Preeklampsia merupakan sindrom spesifik-kehamilan berupa
berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan
aktivasi endotel, yang ditandai dengan
peningkatan tekanan darah dan proteinuria. Preeklampsia terjadi
pada umur kehamilan diatas 20 minggu,
paling banyak terlihat pada umur kehamilan 37 minggu,
tetapi dapat juga timbul
kapan saja pada pertengahan
kehamilan (Mochtar, 2005).
b. Etiologi
Preeklamsi
Etiologi
preeklampsia sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori-teori yang dikemukakan
oleh para ahli yang mencoba menerangkan
penyebabnya, oleh
karena itu disebut “penyakit teori”; namun belum
ada
yang memberikan jawaban yang mem uaskan. Teori sekarang yang dipakai
sebagai penyebab preeklampsia adalah
teori “iskemia plasenta”. Namun teori ini belum dapat
menerangkan semua hal yang berkaitan dengan
penyakit ini (Moechtar,
2005). Adapun
teori-teori tersebut adalah ;
1) Peran
prostasiklin dan tromboksan
Pada
preeklampsia dan eklampsia didapatkan
kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga sekresi vasodilatator
prostasiklin oleh sel-sel endotelial
plasenta berkurang,
sedangkan pada kehamilan normal, prostasiklin
meningkat. Sekresi tromboksan oleh trombosit bertambah sehingga timbul vasokonstriksi generalisata dan sekresi aldosteron menurun. Akibat perubahan ini menyebabkan pengurangan
perfusi plasenta sebanyak 50%, hipertensi dan
penurunan volume plasma
2) Peran
faktor imunologis
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan
pertama karena pada kehamilan
pertama terjadi
pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta
tidak sempurna. Pada preeklampsia terjadi
kompleks imun humoral
dan
aktivasi komplemen. Hal ini dapat diikuti dengan terjadinya pembentukan
proteinuria.
3) Peran
faktor genetik
Preeklampsia hanya terjadi pada manusia. Preeklampsia meningkat pada anak
dari ibu yang menderita preeklampsia.
4) Iskemik dari uterus
Terjadi karena penurunan aliran darah di uterus
5)
Defisiensi kalsium.
Diketahui bahwa kalsium
berfungsi membantu mempertahankan vasodilatasi dari pembuluh darah
6) Disfungsi dan aktivasi dari endotelial.
Kerusakan sel endotel vaskuler
maternal memiliki peranan penting dalam
patogenesis terjadinya preeklampsia. Fibronektin dilepaskan oleh
sel
endotel yang mengalami kerusakan dan meningkat secara signifikan dalam darah wanita hamil dengan preeklampsia. Kenaikan kadar fibronektin sudah dimulai
pada trimester
pertama kehamilan dan kadar fibronektin akan
meningkat
sesuai dengan kemajuan kehamilan
c. Patofisiologi
preeklamsi
Pada preeklampsia yang
berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan
patologis pada sejumlah organ
dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh
vasospasme
dan
iskemia (Cunningham, 2003). Wanita dengan hipertensi pada kehamilan
dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen
(seperti
prostaglandin, tromboxan) yang
dapat menyebabkan
vasospasme
dan agregasi
platelet. Penumpukan trombus dan pendarahan dapat mempengaruhi sistem
saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus dan
proteinuria. Kerusakan hepar dari
nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri
epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intravaskular, meningkatnya cardiac output dan
peningkatan tahanan pembuluh perifer. Peningkatan hemolisis microangiopati
menyebabkan anemia
dan trombositopeni.
Infark plasenta dan obstruksi plasenta
menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Prawirohardjo, 2006).
Perubahan pada organ-organ:
1)
Perubahan kardiovaskuler.
Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada preeklampsia
dan
eklampsia. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan
peningkatan afterload
jantung akibat hipertensi,
preload jantung yang secara
nyata dipengaruhi
oleh berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau yang secara iatrogenik ditingkatkan
oleh larutan onkotik atau kristaloid
intravena, dan aktivasi endotel
disertai ekstravasasi ke dalam ruang ektravaskular terutama paru.
2) Meta bolisme air dan elektrolit
Hemokonsentrasi
yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui penyebabnya. Jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada penderita preeklampsia dan eklampsia daripada pada
wanita hamil biasa atau penderita dengan hipertensi kronik. Penderita preeklampsia tidak dapat mengeluarkan dengan sempurna air dan garam yang diberikan. Hal ini disebabkan
oleh filtrasi
glomerulus menurun, sedangkan
penyerapan
kembali tubulus tidak berubah. Elektrolit, kristaloid, dan protein tidak menunjukkan perubahan yang nyata pada preeklampsia. Konsentrasi kalium, natrium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas normal.
3) Mata
Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh
darah. Selain itu dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan
oleh edema intra-okuler dan merupakan salah satu indikasi
untuk melakukan
terminasi kehamilan. Gejala lain yang menunjukan tanda
preeklampsia
berat yang
mengarah pada
eklampsia adalah adanya skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini
disebabkan oleh adanya perubahan preedaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau di dalam retina (Mochtar, 2005).
4) Otak
Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada korteks serebri, pada
keadaan yang berlanjut dapat ditemukan perdarahan
5) Uterus
Aliran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan ganggua n pada plasenta, sehingga terjadi gangguan
pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada preeklampsia dan
eklampsia sering terjadi
peningkatan tonus rahim dan kepekaan terhadap rangsangan, sehingga terjadi
partus prematur.
6)
Paru-paru
Kematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa juga karena
terjadinya aspirasi pneumonia, atau abses
paru (Mochtar, 2005)
d.
Gejala
1)
Gejala Subyektif
Pada
preeklampsia didapatkan sakit kepala di daerah frontal,
skotoma, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di
daerah
epigastrium, mual atau muntah-muntah. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada
preeklampsia yang meningkat dan merupakan
petunjuk bahwa eklampsia akan timbul. Tekanan
darah pun akan meningkat lebih
tinggi, edema dan
proteinuria bertambah
meningkat
(Manuaba,2005).
2) Pemeriksaan
Fisik
Pada pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan meliputi; peningkatan tekanan sistolik 30mmHg dan diastolik 15 mmHg atau tekanan darah meningkat lebih dari 140/90mmHg. Tekanan darah pada preeklampsia berat meningkat lebih dari 160/110
mmHg
dan disertai
kerusakan beberapa organ. Selain itu kita juga akan menemukan
takikardia, takipnu, edema paru, perubahan kesadaran, hipertensi ensefalopati, hiperefleksia, pendarahan otak (Prawirohardjo, 2006).
e. Diagnosis
Diagnosis preeklampsia dapat ditegakkan dari gambaran klinik dan pemeriksaan
laboratorium. Dari hasil diagnosis, maka preeklampsia dapat diklasifikasikan menjadi
dua golongan yaitu
1)
Pre eklamsi ringan,
bila terdapat gejala :
a)
Tekanan darah 140/90
mmHg, atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau
lebih,
atau kenaikan sistolik
30 mmHg atau lebih setelah 20
minggu kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal.
b) Proteinuria kuantitatif≥ 0,3 gr perliter atau kualitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter atau midstream.
2)
Pre eklamsia
berat, bila disertai keadaan :
a)
Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+.
b)
Oligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam.
c) Adanya
gangguan serebral, gangguan
penglihatan,
dan rasa
nyeri di
epigastrium.
d)
Terdapat edema paru dan sianosis
e)
Trombositopeni
f)
Gangguan fungsi hati
g)
Pertumbuhan janin terhambat
f. Faktor
risiko
Pre eklamsi
1) Riwayat preeklampsia.
Seseorang yang mempunyai riwayat preeklampsia atau riwayat keluarga dengan preeklampsia maka akan meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia
2) Primigravida
karena pada primigravida pembentukan antibodi penghambat (blocking antibodies) belum sempurna sehingga meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia. Perkembangan preeklampsia semakin meningkat
pada umur kehamilan pertama dan kehamilan dengan umur yang ekstrem, seperti terlalu muda atau terlalu tua.
3) Kegemukan
4) Kehamilan
Ganda
Preeklampsia lebih sering terjadi pada wanita yang mempuyai bayi kembar
atau lebih .
5) Riwayat
Penyakit Tertentu
Wanita
yang mempunyai riwayat penyakit tertentu
sebelumnya,
memiliki
risiko terjadinya preeklampsia. Penyakit tersebut meliputi
hipertensi kronik,
diabetes, penyakit ginjal atau penyakit degeneratif seperti reumatik arthritis atau lupus.
g. Penatalaksanaan
1) Penanganan umum.
a)
Jika
tekanan
diastolik
>
110 mmHg, berikan
antihipertensi,
sampai
tekanan diastolik diantara 90 - 100 mmHg.
b) Pasang infus
RL (
Ringer Laktat )
c) Ukur keseimbangan cairan, jangan sapai terjadi overload
d) Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria
e) Jika jumlah urin < 30 ml perjam:
(1)Infus cairan dipertahankan 1 1/8 jam
(2)Pantau kemungkinan edema paru
f)
Jangan tinggalkan pasien sendirian.
Kejang
disertai aspirasi
dapat
mengakibatkan kematian ibu dan janin.
g) Observasi tanda vital, refleks, dan denyut jantung janin setiap jam.
h)
Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Krepitasi merupakan tanda edema paru. Jika terjadi edema paru, stop pemberian
cairan
dan
berikan diuretik misalnya furosemide 40 mg intravena.
i)
Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bedside. Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulapati (Saifuddin, 2006).
2)
Antikonvulsan.
Pada kasus preeklampsia yang berat dan eklampsia, magnesium sulfat yang diberikan secara parenteral
adalah obat anti kejang yang efektif tanpa menimbulkan depresi susunan syaraf pusat baik bagi ibu maupun janinnya.
Obat ini dapat diberikan secara intravena melalui infus kontinu atau
intramuskular dengan injeksi intermiten. Infus intravena kontinu
a) Berikan dosis bolus 4 – 6 gram MgSO4 yang diencerkan dalam 100 ml
cairan dan diberikan dalam 15-20 menit.
b) Mulai
infus
rumatan
dengan dosis 2 g/jam dalam 100
ml
cairan intravena.
c) Ukur kadar MgSO4 pada 4-6 jam setelah pemberian dan disesuaikan kecepatan infuse untuk mempertahankan kadar antara 4 dan 7 mEg/l
(4,8-8,4 mg/l).
d)
MgSO4 dihentikan 24 jam setelah bayi lahir.
Injeksi intramuskular intermiten:
e) Berikan 4 gram MgSO4 sebagai larutan 20% secara intravena dengan
kecepatan tidak melebihi 1 g/menit.
f) Lanjutkan segera
dengan 10 gram MgSO4 50%, sebahagian
(5%) disuntikan dalam di kuadran lateral atas bokong (penambahan 1 ml lidokain 2 % dapat mengurangi nyeri). Apabila kejang menetap setelah 15 menit, berikan MgSO4 sampai 2 gram
dalam bentuk larutan 20%
secara intravena dengan kecepatan
tidak melebihi
1g/menit. Apabila wanita tersebut bertubuh
besar, MgSo4 dapat diberikan sampai 4 gram perlahan.
g) Setiap 4 jam sesudahnya, berikan 5 gram larutan MgSO4 50% yang disuntikan dalam ke kuadran lateral atas bokong bergantian kiri-kanan, tetapi setelah dipastikan bahwa:
(1)Refleks
patela (+)
(2)Tidak terdapat depresi pernapasan
(3)Pengeluaran urin selama 4 jam sebelumnya melebihi 100 ml
h)
MgSO4 dihentikan 24 jam setelah bayi lahir.
i)
Siapkan antidotum
Jika terjadi henti napas,
berikan
bantuan dengan
ventilator atau
berikan
kalsium glukonat 2 g (20 ml dalam larutan 10%) secara intravena perlahan- lahan sampai pernapasan mulai lagi.
3)
Antihipertensi.
a) Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg intravena pelan-
pelan selama 5 menit sampai tekanan darah turun.
b) Jika perlu, pemberian hidralazin dapat diulang setiap jam, atau 12,5 intramuskular setiap 2 jam.
c)
Jika hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan:
d)
Nifedipine dosis oral 10 mg yang diulang tiap 30 menit.
e) Labetalol 10 mg intravena sebagai dosis awal, jika tekanan darah
tidak membaik dalam 10 menit, maka dosis dapat ditingkatkan sampai 20 mg intravena (Cunningham,
2005)
3. BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)
a. Pengertian
BBLR adalah bayi yang lahir
dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Berat
lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir ( Depkes RI,
2005).
Demikian juga menurut Saifuddin
(2002), BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan
2499 gram).
BBLR merupakan salah satu faktor utama
yang berpengaruh terhadap kematian perinatal
dan neonatal. Bayi yang di lahirkan BBLR berisiko meninggal
dunia sebelum berumur satu tahun 17
kali lebih besar dari bayi yang dilahirkan dengan berat badan normal.
(Depkes RI, 2005)
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Bayi berat lahir
rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga
membutuhkan biaya perawatan yang tinggi.
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita energi kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan anak, serta
berpengaruh pada penurunan kecerdasan (Depkes RI, 2005).
Prevalensi Bayi
BBLR diperkirakan 15% dari
seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3% - 38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau
sosial ekonomi rendah.
Secara statistik menunjukkan 90% kejadian
BBLR
didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibandingkan pada bayi dengan
berat lahir lebih dari 2500 gram. (Depkes
RI, 2005)
b. Jenis
jenis BBLR
Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR ) dibedakan atas 2 kategori yaitu Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) karena premature dan BBLR karena Intrauterine Growth Retardation (IUGR),
yaitu bayi yang lahir cukup
bulan tetapi berat badannya
kurang.
1) Premature
Makin
rendah masa gestasi dan makin kecil bayi
yang dilahirkan makin tinggi morbiditas dan mortalitasnya.
Dengan pengelolaan yang optimal dan dengan
cara- cara yang kompleks serta
menggunakan alat-alat
yang canggih, beberapa gangguan yang berhubungan dengan prematuritasnya
dapat diobati. Dengan
demikian gejala
sisa yang mungkin diderita di
kemudian
hari dapat dicegah atau dikurangi.
Berdasarkan atas
timbulnya bermacam-macam problematik pada derajat prematuritas
maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam
tiga kelompok
a) Bayi yang sangat prematur (extremely premature) : 24 – 30 minggu. Bayi dengan masa gestasi 24 – 27 minggu masih
sangat sukar hidup terutama di negara yang
belum atau sedang berkembang. Bayi dengan
gestasi 28 – 30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif agar dicapai hasil yang optimum.
b) Bayi
pada
derajat prematur
yang
sedang
(moderately
premature) : 31 – 36 minggu. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup lebih baik dari golongan
pertama dan gejala sisa yang dihadapinya
dikemudian hari juga lebih
optimum. pertama dan gejala sisa yang dihadapinya
dikemudian hari juga lebih ringan, asal saja pengelolaan terhadap
bayi ini betul-betul intensif.
c) Borderline premature : masa gestasi 37 – 38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat- sifat
prematur dan
matur. Biasanya beratnya
seperti bayi matur
dan dikelola
seperti bayi matur, akan tetapi sering timbul problematik seperti yang dialami
bayi prematur, misalnya sindrom gangguan pernafasan, hiperbilirubinemia, daya
isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama.
Alat tubuh bayi prematur belum berfungsi
seperti bayi matur. Oleh sebab itu, ia mengalami lebih
banyak kesulitan
untuk hidup di luar uterus
ibunya.
Makin pendek masa
kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi
dan makin tingginya angka
kematiannya. Dalam hubungan ini sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi-bayi prematur.
Bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun
fisiologik maka mudah
timbul
beberapa kelainan seperti
berikut :
1) Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena
kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari kurangnya
jaringan lemak di bawah kulit,
permukaan tubuh yang relatif lebih luas
dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat yang belum
cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi
sebagaimana mestinya.
2) Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan oleh kekurangan
surfaktan, pertumbuhan dan pengembangan paru
yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung.
Penyakit gangguan pernafasan
yang sering diderita bayi prematur adalah penyakin membran hialin dan aspirasi pneumoni. Di samping itu sering timbul pernafasan periodik
dan apnea yang disebabkan
oleh pusat pernafasan di medulla
belum matur.
3) Gangguan
alat pencernaan dan problematika
nutrisi.
4) Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K
5) Ginjal
yang immatur baik secara anatomis maupun
fungsinya
6) Perdarahan mudah
terjadi karena pembuluh darah yang rapuh.Gangguan imunologik,
daya tahan tubuh terhadap infeksi
berkurang.
7) Perdarahan intraventrikuler. Lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan
intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita
apnea, asfiksia berat dan sindrom gangguan pernafasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi dan hiperkapnia.
Tampak luar dan tingkah laku bayi prematur tergantung dari tuanya umur kehamilan. Makin muda umur kehamilan makin jelas
tanda-tanda immaturitas. Karakteristik untuk bayi prematur adalah berat lahir sama dengan atau kurang
dari 2500 gram, panjang badan kurang
atau sama dengan
45 cm, lingkaran dada kurang
dari 30 cm, lingkaran kepala
kurang dari 33 cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
Kepala relatif besar
dari badannya, kulit tipis, transparan, lanugonya banyak, lemak subkutan
kurang, sering tampak peristaltik
usus, tangisannya lemah dan jarang, pernafasan tidak teratur dan
sering timbul apnea.
2) Masa
kecil Kehamilan
Banyak istilah yang digunakan
untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (Intrauterine Growth Retardation
= IUGR) seperti pseudopremature, small for dates,
dysmature, fetal malnutrition
syndrome.
Ada dua bentuk IUGR menurut
Renfield, (1975), yaitu
:
a)
Proportionate
IUGR
Janin
yang menderita distress yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi
berminggu-minggu sampai berbulan-bulan
sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi
keseluruhannya masih di bawah masa
gestasi yang sebenarnya.
b) Disproportionate
IUGR
Terjadi akibat distress subakut.
Gangguan terjadi beberapa minggu sampai
beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala
normal akan tetapi berat
tidak sesuai dengan masa gestasi.
Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.
Pada bayi IUGR perubahan
tidak hanya terhadap ukuran panjang,
berat dan lingkaran kepala akan
tetapi organ-organ di
dalam badan pun mengalami perubahan. Drillen (1975) menemukan berat otak, jantung, paru dan ginjal
bertambah, sedankan berat hati,
limpa, kelenjar
adrenal dan thimus berkurang dibandingkan
pada bayi prematur dengan berat yang sama. Perkembangan dari otak, ginjal dan
paru sesuai masa gestasinya (Wiknjosastro dkk, 2005).
c. Faktor
Penyebab bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Menurut Mochtar
(2005), faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan prematur atau
Bayi Berat Lahir Rendah adalah :
1) Faktor Ibu
a)
Gizi saat hamil yang kurang
b)
Umur kurang
dari 20 tahun atau di atas 35 tahun
c)
Jumlah kehamilan ( paritas )
d)
Jarak hamil dan bersalin terlalu
dekat
e)
Penyakit menahun
ibu seperti hipertensi, jantung,
gangguan pembuluh darah.
f)
Merokok
g) Faktor
pekerjaan yang terlalu berat
3) Faktor Kehamilan
a)
Hamil dengan hidramnion
b)
Hamil ganda
c) Perdarahan antepartum
d)
Komplikasi
hamil : pre-eklamsia/eklamsia,
ketuban pecah dini
4) Faktor Janin
a)
Cacat bawaan
b)
Infeksi
dalam rahim
5) Faktor lain
yang masih belum diketahui
Menurut
Manuaba (2007) BBLR disebabkan oleh 7 (tujuh) faktor yaitu
: genetik
(faktor gen, interaksi lingkungan,
ukuran ayah, jenis kelamin), kecukupan gizi (nutrisi ibu ketika hamil, kecukupan protein
dan energi, kekurangan nutrisi), karakteristik dan
berat ibu (berat ibu ketika hamil, paritas, jarak kelahiran), penyakit (infeksi, seperti
malaria, anaemia, syphilis, rubella), komplikasi
kehamilan (eklamsi, infeksi ketika melahirkan), gaya hidup ibu (merokok dan mengkonsumsi alkohol) dan lingkungan
(polusi, faktor
sosial ekonomi).
Penyebab terbanyak
terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang
lain yaitu umur, paritas dan
lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler,
kehamilan kembar serta faktor janin juga merupakan
penyebab terjadinya BBLR (IDAI,2004)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar