BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
- Persalinan
a.
Konsep Persalinan
Mochtar (2005) mendefinisikan
persalinan sebagai proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri ) yang
dapat hidup ke dunia luar ,dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan
lain.
Menurut Depkes R.I. (2008) persalinan
adalah proses dimana bayi ,plasenta dan selaput keluar dari uterus ibu
.Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup
bulan setelah (37 minggu ) tanpa
disertai adanya penyulit .
Sedangkan Sumarah, dkk (2009)
menyatakan bahwa persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran yang
terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu ),lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam waktu 18-24 jam, tanpa
komplikasi baik pada ibu maupun pada janin .
b.
Persalinan dibagi dalam 4 kala
Sumarah,dkk (2009) menyebutkan bahwa
perslinan dibagi dalam 4 kala yang terdiri dari :
1) Kala I
Persalinan
kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai
pembukaan lengkap. Proses ini berlangsung kurang lebih 18-24 jam yang terbagi menjadi 2
fase: a) Fase laten (8 jam ) dari pembukaan 0 cm
smpai pembukaan 3cm. b) Fase aktif (7
jam) dari pembukaan 4 cm sampai pembukaan
10 cm. Dalam fase aktif ini masih dibagi menjadi 3 fase lagi
yaitu :
(1)
Fase akselerasi, dimana dalam
waktu 2 jam pembukaan 3 cm
menjadi 4 cm.
(2)
Fase dilatasi maksimal, yakni dalam
waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari pembukaan 4 cm
menjadi 9 cm.
(3)
Fase deselerasi, dimana
pembukaan menjadi lambat sekali. Dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi 10
cm.
2) Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10
cm) sampai bayi lahir. Proses ini berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam
pada multigravida. Pada kala ini his menjadi lebih kuat dan
cepat ,kurang lebih 2-3 menit sekali .
3)
Kala
III
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai
lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi
lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi kembali untuk melepaskan
plasenta dari dindingnya.
4) Kala IV
Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2
jam pertama post partum. Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang
memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang aman
dan bersih.
Observasi yang harus
dilakukan pada kala IV adalah :
a) Tingkat kesadaran penderita.
b) Pemeriksaan tanda
– tanda vital : tekanan darah, nadi dan
pernafasan.
c)
Kontraksi uterus.
d)
Terjadinya perdarahan.
Perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya tidak
melebihi 400 sampai 500 cc.
c. Faktor-faktor
Penting dalam Persalinan
Menurut Mochtar (2005) ,factor-faktor yang
berperan dalam
persalinan
adalah :
1)
Kekuatan mendorong janin keluar
(POWER)
a) His (kontraksi uterus )
b) Kontraksi otot-otot dinding perut.
c) Kontraksi diafragma.
d) Ligamentous action terutama ligamentum
rotundum
2) Faktor janin (PASSANGER)
3) Faktor jalan lahir (PASSAGE)
Pada waktu partus akan terjadi perubahan
–perubahan pada uterus,serviks, vagina dari dasar panggul .
d.
Tanda-tanda Inpartu
Menurut Depkes R.I (2008) tanda –tanda inpartu ada 3 yaitu :
1.
Penipisan dan pembukaan servis.
2.
Kontraksi uterus yang
mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi
minimal 2 kali dalam 10 menit ).
3.
Cairan lender bercampur darah (“show”) melalui vagina .
- Teori Nyeri Persalinan
a.
Definisi Nyeri Persalinan
Nyeri persalinan adalah suatu sensasi tunggal
yang disebabkan oleh stimulus spesifik bersifat subyektif dan berbeda antara
masing –masing individu karena dipengaruhi oleh faktor psikososial dan kultur
dan endorphin seseorang ,sehingga orang tersebut lebih merasakan nyeri. Pada
kehamilan dan persalinan rasa nyeri diartikan sebagai sebuah “ sinyal “ untuk
memberitahukan kepada ibu bahwa dirinya
telah memasuki tahapan proses persalinan ( Judha.M , 2012).
Menurut Cunningham (2004), Nyeri persalinan sebagai kontraksi miometrium, merupakan
proses fisiologis dengan intensitas yang berbeda pada masing –masing individu.
Menurut Perry & Bobak (2004), rasa nyeri yang dialami selama persalinan bersifat
unik pada setiap ibu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain budaya, takut, kecemasan, pengalaman
persalinan sebelumnya, persiapan persalinan dan dukungan.
Rasa
nyeri pada persalinan adalah manifestasi dari adanya kontraksi (pemendekan)
otot rahim. Kontraksi inilah yang menimbulkan rasa sakit pada pinggang, daerah
perut dan menjalar kearah paha . Kontraksi ini menyebabkan adanya pembukaan mulut
rahim (serviks). Dengan adanya pembukaan serviks ini maka akan terjadi persalinan.
b.
Fisiologi Nyeri Persalinan
Beberapa teori telah menjelaskan mekanisme nyeri
:
1)
Nyeri berdasarkan berdasarkan
tingkat kedalaman dan letaknya
Rasa nyeri yang dialami selama persalinan memiliki dua jenis
menurut sumbernya,
yaitu nyeri VISERAL dan nyeri SOMATIK. Nyeri
Viseral yaitu rasa nyeri yang dialami ibu karena perubahan serviks dan
iskemia uterus pada persalinan kala I. Persalinan kala I fase laten lebih
banyak penipisan di serviks sedangkan pembukaan serviks dan penurunan daerah
terendah janin terjadi pada fase aktif dan transisi (Judha, 2012 ).
Ibu akan merasakan nyeri yang berasal
dari bagian bawah abdomen dan menyebar ke daerah lumbal, punggung, dan menurun ke
paha. Ibu biasanya mengalami nyeri hanya selama kontraksi dan bebas rasa nyeri
pada interval antar kontraksi .
Nyeri SOMATIK yaitu nyeri yang dialami
ibu pada akhir kala I dan kala II persalinan .
Nyeri disebabkan oleh :
(a)
peregangan perineum,vulva
(b)
Tekanan uteri servikal saat
kontraksi
(c)
Penekanan bagian terendah janin secara progresif pada fleksus
lumbosakral, kandung kemih, usus dan
struktur sensitive panggul
yang lain
(Bobak, 2004).
2)
Teori Kontrol Gerbang ( Gate Control Theory)
Berdarasarkan teori ini serabut syaraf mentransmisikan rasa nyeri ke spinal cord,
yang hasilnya dapat dimodifikasi di tingkat spinal cord sebelum di transmisikan
ke otak. Sinap - sinap pada dorsal horn berlaku sebagai
gate yang tertutup
untuk menjaga impuls sebelum mencapai otak atau membuka untuk mengizinkan impuls naik ke otak.
Teori Gate Control menyatakan bahwa selama
proses persalinan Impuls nyeri berjalan dari uterus sepanjang serat-serat syaraf besar
ke arah uterus ke substansia gelatinosa di dalam spinal kolumna,sel - sel transmisi memproyeksikan pesan nyeri ke otak. Adanya stimulasi (seperti vibrasi,
menggosok-gosok atau massage) mengakibatkan pesan yang berlawanan yang lebih kuat, cepat dan
berjalan sepanjang serat syaraf kecil.
Pesan yang berlawanan
ini menutup gate di
substansi gelantinosa lalu memblokir pesan nyeri sehingga otak tidak mencatat pesan nyeri tersebut
(Judha, 2012).
Mekanisme
secara intrinsik pada nyeri persalinan kala I seluruhnya
terjadi pada uterus dan adneksa selama kontraksi
berlangsung. Beberapa penelitian awal menyatakan nyeri disebabkan karena :
(a)
Penekanan pada ujung-ujung
syaraf antara serabut otot dari korpus fundus uterus .
(b)
Adanya iskemik miometrium dan serviks
karena kontraksi sebagai konsekuensi dari
pengeluaran darah dari uterus atau karena adanya vasokontriksi akibat
aktivitas berlebihan dari saraf simpatis.
(c)
Adanya proses peradangan pada
otot uterus
(d)
Kontraksi pada serviks dan segmen bawah rahim menyebabkan
rasa takut yang memacu
aktivitas berlebih dari system saraf simpatis.
(e)
Adanya dilatasi dari serviks
dan segmen bawah rahim .
Banyak data yang mendukung hipotesis nyeri persalinan
kala I terutama disebabkan karena adanya dilatasi ,peregangan dan kemungkinan
robekan jaringan selama kontraksi.
Rasa nyeri pada setiap fase persalinan dihantarkan oleh segmen syarafyang berbeda - beda. Nyeri pada
kala I terutama berasal dari uterus (Judha,2012).
- Intensitas Nyeri
Judha (2012) menyatakan
bahwa intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan
oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan
kemungkian nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua
orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan obyektif yang paling mungkin
adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun
pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang
nyeri itu sendiri.
1)
Skala Intensitas Nyeri Deskriptif
Gambar 2.1 Skala
Intensitas Deskriptif
![]() |
0 1 2 3
4 5 6 7
8 9 10
Tidak
Nyeri ringan Nyeri Sedang Nyeri Berat Nyeri berat
Nyeri
Terkontrol tidak terkontrol
Skala deskriptif Verbal (Verbal Scale
Descriptive,VSD)merupakan salah satu alat ukur tingkat keparahan berupa sebuah
garis yang terdiri dari beberapa kalimat pendeskripsi yang tersusun dalam jarak
yang sama sepanjang garis (Prasetyo, 2010).
2) Skala Numeric Scale
0 1
2 3
4 5
6 7
8 9 10
Tidak
Nyeri sedang Nyeri
Nyeri
Skala numeric
(Numerical Rating Scale,NRS) menggunaka angka 0 sampai 10.Angka 0 diartikan
kondisi klien tidak merasakan nyeri,angka 10 mengindikasikan nyeri paling berat
yang dirasakan klien.Skala ini efektif untuk mengkaji intensitas nyeri sebelum
dan sesudah intervensi terapetik (Prasetyo,2010)
3)
Skala Analog Visual
Tidak nyeri
Nyeri sangat
hebat
Skala analog visual (Visual analog
scale,VAS) merupakan suatu garis lurus yang memilliki alat pendeskripsi pada
setiap ujungnnya.
Skala ini member kebebasan penuh pada pasien
untuk mengidentifikasi tingkat keparahan nyeri yang dirasakan (Prasetyo, 2010)
4)
Skala Nyeri Menurut Bourbanis
Gambar 2.3 Skala menurt Bourbanis
0 1
2 3
4 5
6 7
8 9 10
nyeri nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat nyeri
terkontrol berat tdk
terkontrol
Keterangan :
0
:Tidak nyeri
1-3 :Nyeri ringan :secara
obyektif klien dapat berkomunikasi dengan
baik .
4-6 :Nyeri sedang : Secara obyektif klien
mendesis, menyeringai, dan menunjukan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikanya, dapat
mengikuti perintah dengan baik.
7-9 :Nyeri berat :secara obyektif klien
terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat
menunjukan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikanya, tidak dapat diatasi
dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 :Nyeri sangat berat: Pasien sudah
tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul (Prasetyo,2010).
4.
Nyeri persalinan
1)
Tinjauan umum tentang nyeri
persalinan
Menurut Yanti (2010) nyeri persalinan
adalah nyeri akibat kontraksi miometrium disertai mekanisme perubahan
fisiologis dan biokimiawi.
Nyeri
persalinan sebagai suatu perasaan tidak menyenangkan yang merupakan respon
individu yang menyertai dalam proses persalinan oleh karena adaya perubahan
fungsi fisiologis dari jalan lahir dan rahim. Nyeri yang dirasakan
sangat subyektif dan bersifat individual(Judha, 2012).
Farer (2001)
menyatakan bahwa dengan peningkatan kekuatan kontraksi, serviks akan tertarik, kontraksi yang
semakin kuat ini juga membatasi pengalihan oksigen pada otot- otot rahim
sehingga timbul nyeri iskemik.
2)
Tingkat nyeri persalinan
Tingkat nyeri
persalinan biasanya berhubungan dengan tingkat dilatasi serviks.Hal ini dapat
dilihat pada grafik berikut ini.
Grafik.2.3 tingkat nyeri dan dilatasi
serviks.
0 2 4 6 8 10
Sumber :Moir PP,1986 pain relief in labour,dikutip oleh Farrer,2001
Menurut Prasetyo (2010) tingkat nyeri
persalinan dapat dibagi sebagai berikut:
(a)
Nyeri ringan
Jika
pasien menunjuk pada rentang skala 1-3 yaitu pasien masih bisa beraktifitas atau
melakukan kegiatan dan aktifitas pasien masih jarang terpengaruhi.
(b)
Nyeri sedang
Jika pasien menunjuk pada rentag skala 4-6
yang masih bias beraktifitas atau melakukan kegiatan tapi aktifitas ibu sudah
terganggu.
(c)
Nyeri berat
Jika pasien menunjuk pada rentang skala
7-10 yaitu ibu tidak dapat melakukan
kegiatan atau aktifitas apapun dan kadang-kadang disertai keluhan vegetatif
seperti nyeri dikepala, kelelahan dan lain-lain.
3)
Dampak nyeri terhadap ibu dan
janin
Menurut Muhiman (1996) nyeri adalah
rangsangan yang tidak enak dan dapat
merupakan penderitaan serta menimbulkan takut dan khawatir,hal ini dapat
membuat ibu menjadi stress. Stres dalam persalinan menyebabkan peningkatan
produksi adrenalin. Salah satu efek dari adrenalin adalah vasokontriksi yang
mengakibatkan gangguan sirkulasi uterus dan hipoksia janin. Berkurangnya
aliran darah menyebabkan berkurangnya kontraksi uterus yang mengakibatkan waktu
persalinan terjadi hiperventilasi. Hiperventilasi yang berlebihan akan meningkatkan
alkalemia (alkalosis respiratorik ) yang menguragi suplai oksigen .
5.
Penyebab Rasa Nyeri Persalinan
Rasa nyeri persalinan
muncul karena :
1)
Kontraksi otot rahim
Kontraksi rahim menyebabkan dilatasi dan penipisan servik serta iskemia rahim akibat kontraksi arteri miometrium. Karena rahim merupakan organ internal maka nyeri yang timbul disebut nyeri visceral. Nyeri visceral
juga dapat dirasakan pada organ lain yang bukan merupakan asalnya disebut nyeri
alih (reffered pain ) . Pada persalinan nyeri alih dapat dirasakan pada
punggung bagian bawah dan sacrum. Biasanya ibu hanya mengalami rasa nyeri ini hanya selama kontraksi dan bebas dari rasa nyeri
pada interval antar kontraksi
(Aprilia, 2011 ).
2)
Regangan otot dasar panggul
Jenis
nyeri ini timbul pada saat mendekati kala II .Tidak seperti nyeri Visceral
,nyeri ini terlokalisir di daerah vagina, rectum dan perineum, sekitar anus. Nyeri jenis ini disebut nyeri somatic
dan di sebabkan peregangan struktur jalan lahir bagian bawah
akibat penurunan bagian terbawah janin.
3)
Episiotomy
Pada
peristiwa episiotomy, nyeri dirasakan apabila ada
tindakan episiotomy, tindakan ini dilakukan sebelum jalan lahir
mengalami laserasi maupun rupture pada
jalan lahir .
4)
Kondisi Psikologis
Nyeri dan rasa sakit yang berlebihan akan menimbulkan rasa cemas. Takut, cemas, dan tegang
memicu produksi hormone prostaglandin sehingga timbul stress. Kondisi stress dapat mempengaruhi kemampuan tubuh menahan rasa nyeri .
6.
Faktor – Faktor yang
mempengaruhi respon terhadap Nyeri persalinan
1)
Budaya
Menurut Piliteri (2003)
dalam Judha (2012) Persepsi dan ekspresi terhadap nyeri persalinan dipengaruhi
oleh budaya individu.
Budaya mempengaruhi sikap ibu pada saat Bersalin.
Menurut
Mulyati (2002) bahwa budaya
mempengaruhi ekspresi nyeri intranatal pada ibu primipara. Penting bagi bidan untuk mengetahui bagaimana kepercayaan, nilai, praktik
budaya mempengaruhi seorang ibu dalam mempersepsikan dan mengekspresikan nyeri persalinan .
2)
Emosi (cemas dan takut )
Stres atau rasa takut ternyata secara fisiologis dapat menyebabkan kontraksi uterus menjadi terasa semakin nyeri dan sakit dirasakan. Karena saat wanita dalam kondisi
inpartu tersebut
mengalami stress maka secara otomatis tubuh akan melakukan reaksi defensif sehingga secara
otomatis
dari stress tersebut merangsang
tubuh mengeluarkan
hormone stressor
yaitu hormone Katekolamin
dan hormone Adrenalin. Katekolamin ini akan dilepaskan dalam konsentrasi tinggi saat persalinan
jika calon ibu tidak bisa menghilangkan
rasa takutnya sebelum melahirkan, berbagai respon tubuh yang
muncul antara lain dengan “bertempur atau lari “ (fight or
flight “ ). Dan akibat
respon tubuh tersebut
maka uterus menjadi semakin tegang sehingga aliran darah dan oksigen ke dalam otot -
otot uterus berkurang karena arteri mengecil dan menyempit akibatnya
adalah rasa nyeri yang tak terelakkan.
Maka dari itu, ketika ibu yang sedang melahirkan ini dalam keadaan rileks yang nyaman, semua lapisan otot dalam rahim
akan bekerjasama secara
harmonis seperti seharusnya. Dengan begitu
persalinan akan berjalan lancar, mudah dan nyaman. Apabila ibu sudah terbiasa dengan
latihan relaksasi, jalan lahir akan
lebih mudah terbuka. Sebaliknya, apabila ibu
dalam keadaan tegang, tekanan kepala janin tidak akan membuat mulut rahim terbuka.
Yang dirasakan hanyalah rasa sakit dan sang ibu pun bertambah panik dan stress. Pada saat tubuh dalam keadaan stress, hormone stress yaitu katekolamin akan dilepaskan, sehingga tubuh memberikan respon untuk”bertempur atau lari”. Namun sebaliknya
dalam kondisi yang rileks justru bisa memancing keluarnya hormon endofrin, penghilang rasa sakit yang alami di dalam tubuh. Menurut para
ahli, endorfin ini efeknya 200 kali lebih kuat dari pada morfin.
3)
Pengalaman Persalinan
Menurut Babak (2000) dalam Judha (2012) pengalaman
melahirkan sebelumnya juga
dapat mempengaruhi respon ibu terhadap nyeri.
Bagi ibu yang mempunyai pengalaman yang menyakitkan dan sulit pada
persalinan sebelumnya, perasaan cemas dan takut pada pengalaman lalu akan mempengauhi sensitifiasnya rasa nyeri.
4)
Support system
Dukungan dari pasangan,keluarga maupun pendamping persalinan dapat
membantu memenuhi kebutuhan ibu bersalin,
juga membantu mengatasi rasa nyeri (Martin,2002).
5)
Persiapan persalinan
Persiapan persalinan tidak
menjamin persalinan akan berlangsung tanpa nyeri.Namun,persiapan persalinan
diperlukan untuk mengurangi perasaan cemas dan takut akan nyeri persalinan
sehingga ibu dapat memilih berbagai teknik atau metode latihan agar ibu dapat
mengatasi ketakutannya.
7.
Nyeri persalinan dan Respon Fisiologis
Nyeri yang menyertai kontraksi
uterus mempengaruhi mekanisme fisiologis sejumlah sistem tubuh (Mander
,2004 ), antara lain :
(a)
Ventilasi
Nyeri yang menyertai kontraksi uterus
menyebabkan hiperventilasi.
Hiperventilasi menyebabkan penurunan kadar
PaCO2 dan konsekwensinya adalah peningkatan kadar Ph yang konsisten . Salah
satu bahaya kadar PaCO2 bagi janin menyebabkan menjadi lambannya denyut janin.
Hiperventilasi dapat mempengaruhi keseimbangan asam basa sistem sirkulasi
,menghasilkan alkalosis dengan Ph 7,7 dan diatas7,5. Bahaya nyata alkalosis selama persalinan adalah menurunnya transfer
oksigen bagi janin .
(b)
Fungsi kardiovaskuler
Curah jantung meningkat secara progresif
seiring dengan majunya persalinan karena
nyeri persalinan . Peningkatan tersebut dapat sebesar 15-20% diatas curah
jantung sebelum persalinan selama awal kala I dan sebesar 45-50% selama kala II . Telah
diperkirakan bahwa setiap kontraksi uterus meningkatkan curah jantung 20-30%
lebih tinggi dari pada saat relaksasi uterus .Peningkatan curah jantung
sebagian disebabkan oleh fakta bahwa setiap kontraksi kurang lebih 250-300 ml
darah dialirkan dari uterus kedalam sirkulasi maternal. Juga dimungkinkan bahwa
peningkatan aktifitas simpatis akibat nyeri persalinan ,kecemasan dan ketakutan
mungkin bertanggungjawab dalam peningkatan curah jantung dengan makin majunya
persalinan .
(c)
Efek metabolisme
Peningkatan aktifitas simpatis yang
disebabkan nyeri persalinan dapat menyebabkan peningkatan metabolism dan
konsumsi oksigen serta penurunan motilitas saluran cerna dan kandung kemih. Nyeri dan
kecemasan yang menyertai persalinan dapat menyebabkan kelambatan pengosongan
lambung. Peningkatan konsumsi oksigen dan kehilangan natrium bicarbonate
melalui ginjal untuk mengompensasi alkalosis respiratorik yang menyebabkan nyeri persalinan berperan
dalam status asidosis metabolik yang kemudian juga akan dialami oleh janin.
(d)
Stres yang disebabkan oleh
nyeri persalinan telah dikaitkan dengan peningkatan pelepasan ketokolamin
maternal yang akan menyebabkan penurunan aliran darah uterus. Terjadi juga
peningkatan kadar adrenalin/ noradrenalin. Salah satu efek samping
peningkatan kadar adrenalin adalah penurunan aktifitas uterus yang dapat
menyebabkan persalinan lama .
(e)
Efek hormon lain
Nyeri dan faktor yang berkaitan dengan
stress diketahui mempengaruhi pelepasan hormon beta-endorfin-lipotropin dan hormon adrenokortikotropik (ACTH). Beta
lipotrofin merupakan zat endogen dengan sifat seperti morfin. Beta endorphin
merupakan kelompok beta lipotrofin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis .
Zat ini bekerja sebagai pembawa kimia dan bekerja sebagai analgesia. Sedangkan ACTH
yang meningkat akan meningkatkan serum kortisol yang menyebabkan penurunan
aktifitas uterus .
(f)
Aktivitas Uterus
Nyeri persalinan dapat mempengaruhi
kontraksi uterus melalui sekresi kadar katekolamin dan kortisol yang meningkat
dan akibatnya mempengaruhi durasi persalinan. Noradrenalin, misalnya telah
meningkatkan aktifitas uterus sedangkan adrenalin dan kortisol menyebabkan
penurunan aktifitas yang akan menyebabkan persalinan lama .
8.
Pengurangan Rasa Sakit (Pain
relief )
Sujiyatini (2011) menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian pemberian
dukungan fisik , emosional, dan psikologis selama persalinan akan dapat membantu mempercepat proses
persalinan dan membantu ibu memperoleh kepuasan dalam melalui proses persalinan normal . Metode mengurangi rasa nyeri yang dilakukan secara
terus - menerus dalam bentuk dukungan
harus dipilih yang bersifat sederhana, biaya rendah, membantu kemajuan persalinan ,
hasil kelahiran bertambah baik
dan bersifat sayang ibu .
Menurut Varney , pendekatan untuk
mengurangi rasa sakit dapat
dilakukan dengan cara :
a)
Menghadirkan seseorang yang dapat memberikan dukungan selama
persalinan (suami ,orang tua )
b)
Pengaturan posisi
: duduk
atau setengah duduk, posisi merangkak,
berjongkok atau berbaring miring ke kiri .
c)
Relaksasi dan pernafasan
d)
Istirahat dan privasi
e)
Penjelasan mengenai proses
/kemajuan / prosedur yang akan dilakukan.
f)
Asuhan diri
g)
Sentuhan
Beberapa teknik dukungan
untuk mengurangi
rasa sakit menurut
Sujiyatini
(2011) antara lain :
a)
Kehadiran seorang pendamping
yang terus menerus ,
sentuhan yang
nyaman ,dan dorongan dari orang yang
memberikan support.
b)
Perubahan posisi dan pergerakan
.
c)
Sentuhan dan massase
d)
Couterpressure untuk mengurangi
tegangan pada ligamen.
e)
Pijatan ganda pada pinggul.
f)
Penekanan pada lutut.
g)
Kompres hangat dan kompres
dingin .
h)
Berendam.
i)
Pengeluaran suara .
j)
Visualisasi dan pemusatan
perhatian (dengan berdo’a ).
k)
Musik yang lembut dan
menyenangkan ibu.
l)
Terapi aroma
Pilihlah aroma yang tepat bisa membantu
meredakan ketegangan dan membuat anda merasa nyaman.
m)
Hipnoterapi
Pada bulan terakhir kehamilan cobalah untuk
berlatih hipnoterapi dengan
bantuan tenaga ahli .Ini bisa digunakan pada
saat persalinan ,untuk mengontrol rasa nyeri lewat sugesti positif yang anda
tanam dalam pikiran.
8) Penanganan nyeri persalinan secara non farmakologis
Tiga
sistem penanganan secara non-farmakologi yang dikemukakan
Melzack dalam
Mander 2004 yaitu :
a)
Sistem pembagian sensorik
Untuk menurunkan
nyeri dapat digunakan system pembagian
sensorik dengan 3 reseptor perifer yaitu mekanoreseptor , termoreseptor
dan kemoreseptor.Persepsi nyeri dapat
berkurang karena informasi sensorik
akan mencapai otak sebelum informasi nyeri
.Yang termasuk dalam system
ini antara lain stimulasi kulit. Stimulasi
kulit ini mengaktivasi serat diameter besar yang akan menutup stimulus nyeri.Stimulasi
kulit dapat dilakukan dengan massage,transcutaneus
electrical neural stimulation dan
kompres suhu hangat atau dingin . Metode ini menghasilkan penurunan
nyeri yang memanjang . Hal ini didasarkan pada teori bahwa stimulasi
dapat menghasilkan cairan alami endorpin untuk
mengurangi nyeri .
b)
Sistem motifasi efektif
Sistem motifasi
afektif akan menyebabkan
respon siap siaga
terhadap nyeri .Sistem ini juga berguna sekali dalam upaya menurunkan
nyeri .Yang termasuk dalam sistem ini
diantaranya adalah relaksasi.
c)
Sistem Evaluasi Kognitif
Rasionalisasi dari penggunaan system ini belajar
tentang perilaku
Baru untuk
mereseptor nyeri dan stress ,
sehingga dapat meningkatkan
sistem kontrol terhadap nyeri dan mengurangi nyeri serta pikiran
yang
berhubungan dengan nyeri.Adapun yang
termasuk dalam sistem ini adalah
pemusatan perhatian ,guided imagery dan latihan nafas dalam ,musik, dukungan dan
pemberian informasi secara verbal serta distraksi.
3. Konsep Akupresur
a. Definisi
Akupresur
Akupresur adalah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan pemijatan
dan
stimulasi pada titik- titik tertentu pada tubuh (garis aliran energi atau
meridian
) untuk menurunkan nyeri atau mengubah
fungsi organ .
(Widyaningrum,2013).
b. Tujuan
Akupresur
Mengurangi
ketidaknyamanan selama hamil dan saat
kontraksi datng.
Akupresur
seperti halnya akupuntur merupakan
terapi yang menekankan
titik-titik
tertentu pada tubuh yang diyakini dapat mengatasi
rasa tidak
nyaman selama hamil maupun saat mengalami
kontraksi menjelang
persalinan. Saat hamil pun ,akupresur bisa mengurangi morning
sickness
yang melanda. Sedangkan pada kondisi menjelang
persalinan , akupresur
selain untuk meringankan
rasa sakitnya
juga untuk meningkatkan
intensitas kontraksi itu sendiri (Turana,2004 ).
Akupresur merupakan pengembangan dari teknik
akupuntur yang sangat
membantu ibu hamil pada saat proses persalinan
. Akupresur memberikan
rasa nyaman selama proses persalinan atau merelaksasi . Pada sebagian
orang ,akupresur ini juga dikenal banyak digunakan untuk merangsang
kontraksi atau mendorong kemajuan kontraksi
agar pembukaan lebih cepat
terjadi dan ibu merasa nyaman saat proses persalinan berjalan
(Turana,2004). c. Manfaat Akupresur
Sejarah
membuktikan bahwa akupresur bermanfaat untuk :
1)
Pencegahan penyakit
Akupresur dipraktekan secara teratur pada
saat-saat tertentu menurut aturan yang sudah ada ,yaitu sebelum sakit .
Tujuannya adalah mencegah masuknya sumber penyakit dan mempertahankan kondisi
tubuh.
2)
Penyembuhan penyakit
Akupresur dapat digunakan untuk menyembuhkan
keluhan sakit dan dipraktekan ketika dalam sakit.
3)
Rehabilitasi
Akupresur dipraktekan untuk meningkatkan
kondisi kesehatan sesudah sakit.
4)
Promotif
Akupresur dipraktekan untuk meningkatkan
daya tahan tubuh walaupun tidak sedang sakit (Oka,2003).
d. Persiapan Terapi Akupresur
Ada beberapa
persyaratan yang perlu diperhatikan agar pemanfaatan akupresur
baik yaitu :
ruangan tempat melakukan pemijatan hendaknya tidak pengap dan
mempunyai sirkulasi udara yang baik , pemijatan dilakukan di tempat yang
bersih, posisi
orang yang akan dipijat sebaiknya berbaring ,duduk, dan tidak
berdiri ,tangan sebelum memijat dicuci bersih
dan kuku jari tidak panjang serta
tidak tajam , pemijat dalam keadaan bebas bergerak dengan posisi yang
nyaman
,kondisi pasien yang perlu diperhatikan sebelum melakukan terapi
akupresur
adalah sebaiknya pasien tidak dalam
keadaan emosional ( marah,
takut
,terlalu gembira ,atau sedih), tidak terlalu lapar atau terlalu kenyang,
Pemijatan
dapat dilakukan dengan ujung - ujung jari ,kepalan tangan,telapak
tangan
pangkal telapak tangan dan siku,titik acupoint
tidak dalam keadaan
luka atau
bengkak ,dan untuk pasien yang lemah kondisinya akupresur hanya
diperlukan
untuk menguatkan kondisinya dan jumlah titik yang dipergunakan
jangan terlalu banyak (Oka,2003). Penekanan
pada saat awal harus dilakukan
dengan lembut ,
kemudian secara bertahap
kekuatan penekanan ditambah
sampai
terasa sensasi yang ringan tetapi tidak sakit(Turana,2004).
e. Lokasi Titik Akupresur saat persalinan untuk
mengurangi nyeri
Cara kerja akupresur ini sendiri cukup mudah dan sederhana karena tidak
memerlukan bantuan jarum akupuntur .Cukup dengan
menekan pada titik-titik
tertentu
sesuai dengan tujuan untuk apa akupresur dilakukan .
1)Akupresur
untuk meningkatkan intensitas kontraksi
disebut dengan istilah
Spleen 6 dan hoku atau usus besar 4.Spleen 6 dapat ditemukan empat jari
lebarnya di atas tulang pergelangan kaki .

Letakan 4 jari di atas mata kaki di bagian
kaki . Lalu tekan selama satu menit
dengan
ibu jari ,yaitu di bagian belakang tulang kaki kanan bergantian dengan
kaki
kiri. Atau bersamaan secara simultan .Gerakan ibu jari naik turun sedikit
atau
dalam bentuk lingkaran kecil (Klein &Thompson,2009).
2) Hoku atau L14 adanya di jaringan antara jempol dan
jari telunjuk.

Letakan jari di telapak tangan pasien dan ibu jari di luar
telapak tangan .
Tekan
perlahan secara bersamaan kiri dan kanan . Titik ini sangat dikenal
banyak orang dan sangat efektif untuk
menghilangkan sakit kepala .Lanjutkan
menekan
titik- titik ini dengan berhenti sejenak dan hentikan jika kekuatan
kontraksi sudah meningkat. Titik-titik ini
akan makin efektif jika dipadukan
dengan teknik
untuk meningkatkan kontraksi seperti mengelus pusar pasien.
Titik
akupresur ini akan bekerja sangat efektif jika air ketuban sudah pecah
Sementara itu kontraksi
belum juga mengalami kemajuan . Karena tujuan
Akupresur ini lebih ditujukan untuk merangsang
kontraksi lebih cepat dan
mengurangi
rasa sakit saat kontraksi berlangsung.
3) Dua titik pada tangan bisa meringankan sakit saat
kontraksi

4)Juga dapat mencoba satu titik pada bahu yang disebut
Gallbladder 21.

Dapat menempatkan Gallbladder 21 dengan
cara menekan ibu jari pada bahu dekat kearah leher,satu -dua inchi agak ke
bawah leher .Dua titik ini sangat mudah dilakukan .Tekan dengan keras selama 60
detik atau hitung sampai angka 30. Berhentilah 2-3 menit, lalu tekan lagi .
5) Ada beberapa titik sacral dikenal dengan istilah Bladder 27-34
pada tulang
punggung bagian
bawah yang juga sangat efektif untuk mengatasi
sakit saat
kontraksi termasuk saat terasa kontraksi ini merambat sampai ke bagian
pinggang bagian bawah menuju ke arah paha .

Untuk
mengurangi rasa sakit itu ,suami atau bidan yang mendampingi bisa
mengelus dan
sedikit menekan di dekat tulang ekor untuk merangsang titik
akupresur . Jika kesulitan menemukan titik akupresur ini bisa dilakukan
memakai bola
tenis atau kepalan tangan merangsang daerah tulang punggung
bagian bawah .
6)Titik K1
Titik ini
terletak pada 1/3 bagian atas telapak kaki ,ketika telapak kaki fleksi
(menarik jari kaki ke depan kearah telapak
kaki ).

Lakukan penekanan yang kuat ke dalam dan ke depan kearah jempol
kaki .
Titik ini
mempunyai efek relaksasi
dan dapat digunakan
kapan saja saat
persalinan. Penekanan pada titik ini juga dapat berguna
saat pasien
panik
(misal mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan pada persalinan
sebelumnya ).Titik ini
berguna untuk membantu menenangkan wanita yang
merasa ketakutan ( Turana,2004).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar