Senin, 17 Maret 2014

TINJAUAN TEORI: EFEKTIFITAS TERAPI AKUPRESUR TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PERSALINAN



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

  1. Persalinan
a.       Konsep Persalinan
Mochtar (2005) mendefinisikan persalinan sebagai proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri ) yang dapat hidup ke dunia luar ,dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.
Menurut Depkes R.I. (2008) persalinan adalah proses dimana bayi ,plasenta dan selaput keluar dari uterus ibu .Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan  setelah (37 minggu ) tanpa disertai adanya penyulit .
Sedangkan Sumarah, dkk (2009) menyatakan bahwa persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu ),lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam waktu 18-24 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin .
b.      Persalinan dibagi dalam 4 kala
           Sumarah,dkk (2009) menyebutkan bahwa perslinan dibagi dalam 4 kala yang terdiri dari :
1)      Kala I
        Persalinan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Proses ini berlangsung kurang lebih 18-24 jam yang terbagi menjadi 2 fase: a) Fase laten (8 jam ) dari pembukaan 0 cm smpai pembukaan 3cm.                        b) Fase aktif   (7 jam)  dari   pembukaan  4 cm sampai pembukaan
    10 cm. Dalam  fase  aktif  ini  masih  dibagi   menjadi 3 fase lagi  
    yaitu :
(1)   Fase akselerasi, dimana dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm
menjadi 4 cm.
(2)   Fase dilatasi maksimal, yakni dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari pembukaan 4 cm
menjadi 9 cm.
(3)   Fase deselerasi, dimana pembukaan menjadi lambat sekali. Dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi 10 cm.
2)      Kala II
           Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Pada kala ini his menjadi lebih kuat dan cepat ,kurang lebih 2-3 menit sekali .
3)        Kala III
 Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi kembali untuk melepaskan plasenta dari dindingnya.
4)   Kala IV
           Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang aman dan bersih.
                        Observasi yang harus dilakukan pada kala IV adalah :
a)      Tingkat kesadaran penderita.
b)      Pemeriksaan   tanda – tanda   vital : tekanan  darah,  nadi dan
pernafasan.
c)      Kontraksi uterus.
d)     Terjadinya perdarahan.
Perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc.
            c. Faktor-faktor Penting dalam Persalinan
                           Menurut Mochtar (2005) ,factor-faktor yang berperan dalam
                persalinan adalah :  
1)      Kekuatan mendorong janin keluar (POWER)
a)      His (kontraksi uterus )
b)      Kontraksi otot-otot dinding perut.
c)      Kontraksi diafragma.
d)     Ligamentous action terutama ligamentum rotundum
2)      Faktor janin (PASSANGER)
3)      Faktor jalan lahir (PASSAGE)
   Pada waktu partus akan terjadi perubahan –perubahan pada uterus,serviks, vagina dari dasar panggul .
           d. Tanda-tanda Inpartu
                           Menurut Depkes R.I (2008) tanda –tanda inpartu  ada 3 yaitu :
1.      Penipisan dan pembukaan servis.
2.      Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi
minimal 2 kali dalam 10 menit ).
3.      Cairan lender bercampur darah (“show”)  melalui vagina .

  1. Teori Nyeri Persalinan
a.       Definisi Nyeri Persalinan
       Nyeri persalinan adalah suatu sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus spesifik bersifat subyektif dan berbeda antara masing –masing individu karena dipengaruhi oleh faktor psikososial dan kultur dan endorphin seseorang ,sehingga orang tersebut lebih merasakan nyeri. Pada kehamilan dan persalinan rasa nyeri diartikan sebagai sebuah “ sinyal “ untuk memberitahukan kepada ibu bahwa  dirinya telah memasuki tahapan proses persalinan ( Judha.M , 2012).
             Menurut Cunningham (2004), Nyeri  persalinan sebagai kontraksi miometrium, merupakan proses fisiologis dengan intensitas yang berbeda pada masing –masing individu.
             Menurut Perry & Bobak  (2004), rasa nyeri yang dialami selama persalinan bersifat unik pada setiap ibu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain budaya, takut, kecemasan, pengalaman persalinan sebelumnya, persiapan persalinan dan dukungan.
              Rasa nyeri pada persalinan adalah manifestasi dari adanya kontraksi (pemendekan) otot rahim. Kontraksi inilah yang menimbulkan rasa sakit pada pinggang, daerah perut dan menjalar kearah paha . Kontraksi ini menyebabkan adanya pembukaan mulut rahim (serviks). Dengan adanya pembukaan serviks ini maka akan terjadi persalinan.
b.      Fisiologi Nyeri Persalinan
      Beberapa teori telah menjelaskan mekanisme nyeri :
1)      Nyeri berdasarkan berdasarkan tingkat kedalaman dan letaknya
            Rasa nyeri  yang  dialami  selama  persalinan   memiliki dua jenis
 menurut sumbernya, yaitu nyeri VISERAL dan nyeri SOMATIK. Nyeri    Viseral yaitu rasa nyeri yang dialami ibu karena perubahan serviks dan iskemia uterus pada persalinan kala I. Persalinan kala I fase laten lebih banyak penipisan di serviks sedangkan pembukaan serviks dan penurunan daerah terendah janin terjadi pada fase aktif dan transisi  (Judha, 2012 ).
Ibu akan merasakan nyeri yang berasal dari bagian bawah abdomen dan menyebar ke daerah lumbal, punggung, dan menurun ke paha. Ibu biasanya mengalami nyeri hanya selama kontraksi dan bebas rasa nyeri pada interval antar kontraksi .
       Nyeri SOMATIK yaitu nyeri yang dialami ibu pada akhir kala I dan kala II persalinan .
   Nyeri disebabkan oleh :
(a)    peregangan  perineum,vulva
(b)   Tekanan uteri servikal saat kontraksi
(c)    Penekanan bagian  terendah  janin secara progresif pada fleksus  
                            lumbosakral, kandung kemih, usus dan struktur sensitive panggul
     yang lain (Bobak, 2004).
2)      Teori Kontrol Gerbang ( Gate Control Theory) 
 Berdarasarkan  teori ini  serabut syaraf  mentransmisikan rasa nyeri ke spinal cord, yang hasilnya dapat dimodifikasi di tingkat spinal cord sebelum di transmisikan  ke  otak. Sinap - sinap  pada   dorsal  horn berlaku sebagai  gate  yang   tertutup   untuk  menjaga  impuls sebelum mencapai otak  atau membuka untuk  mengizinkan impuls naik ke otak.
Teori Gate  Control menyatakan  bahwa selama   proses persalinan Impuls nyeri  berjalan  dari uterus sepanjang serat-serat syaraf besar ke arah uterus ke  substansia  gelatinosa  di dalam spinal  kolumna,sel - sel  transmisi  memproyeksikan  pesan   nyeri  ke   otak. Adanya stimulasi (seperti vibrasi, menggosok-gosok atau massage) mengakibatkan pesan  yang berlawanan yang lebih kuat, cepat dan berjalan sepanjang  serat syaraf kecil. Pesan  yang   berlawanan   ini  menutup  gate  di  substansi gelantinosa lalu  memblokir  pesan  nyeri  sehingga  otak tidak mencatat pesan nyeri tersebut (Judha, 2012).
                        Mekanisme secara intrinsik pada nyeri persalinan kala I seluruhnya
terjadi pada uterus dan adneksa selama kontraksi berlangsung. Beberapa penelitian awal menyatakan nyeri disebabkan karena :
(a)    Penekanan pada ujung-ujung syaraf antara serabut  otot  dari  korpus fundus uterus .
(b)   Adanya iskemik  miometrium  dan  serviks  karena  kontraksi  sebagai konsekuensi dari pengeluaran darah dari uterus  atau  karena  adanya vasokontriksi akibat aktivitas berlebihan dari saraf simpatis.
(c)    Adanya proses peradangan pada otot uterus
(d)   Kontraksi pada   serviks  dan  segmen  bawah   rahim   menyebabkan  rasa takut yang memacu aktivitas berlebih dari system saraf simpatis.
(e)    Adanya dilatasi dari serviks dan segmen bawah rahim .
Banyak data yang mendukung hipotesis nyeri persalinan kala I terutama disebabkan karena adanya dilatasi ,peregangan dan kemungkinan robekan jaringan selama kontraksi.
Rasa nyeri pada setiap fase persalinan dihantarkan oleh  segmen   syarafyang  berbeda - beda. Nyeri   pada kala  I  terutama  berasal  dari  uterus (Judha,2012).    
  1. Intensitas Nyeri
Judha (2012) menyatakan    bahwa    intensitas   nyeri  adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkian nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan obyektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri.
1)       Skala Intensitas Nyeri Deskriptif
  Gambar 2.1 Skala Intensitas Deskriptif


 
0         1        2         3       4         5           6      7          8        9               10
     Tidak        Nyeri ringan                     Nyeri Sedang          Nyeri Berat             Nyeri berat    
      Nyeri                                                                                   Terkontrol         tidak terkontrol
Skala deskriptif Verbal (Verbal Scale Descriptive,VSD)merupakan salah satu alat ukur tingkat keparahan berupa sebuah garis yang terdiri dari beberapa kalimat pendeskripsi yang tersusun dalam jarak yang sama sepanjang garis (Prasetyo, 2010).
2)      Skala Numeric Scale

---
0             1              2             3            4            5            6           7          8            9          10
Tidak                                                       Nyeri sedang                                              Nyeri
Nyeri


     Skala numeric (Numerical Rating Scale,NRS) menggunaka angka 0 sampai 10.Angka 0 diartikan kondisi klien tidak merasakan nyeri,angka 10 mengindikasikan nyeri paling berat yang dirasakan klien.Skala ini efektif untuk mengkaji intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi terapetik (Prasetyo,2010)
3)      Skala Analog Visual
Gambar 2.2 Skala Analog Visual


 


Tidak nyeri                                                                                                                     Nyeri sangat
                                                                                                                                              hebat
                                                                                                     
Skala analog visual (Visual analog scale,VAS) merupakan suatu garis lurus yang memilliki alat pendeskripsi pada setiap ujungnnya.
Skala ini member kebebasan penuh pada pasien untuk mengidentifikasi tingkat keparahan nyeri yang dirasakan (Prasetyo, 2010)
4)      Skala Nyeri Menurut Bourbanis
Gambar 2.3 Skala menurt Bourbanis
---
0             1              2             3            4            5            6           7          8            9          10
Tidak                                                    
 nyeri            nyeri ringan                          Nyeri sedang                  Nyeri berat         nyeri      
                                                                                                          terkontrol        berat tdk
                                                                                                                                terkontrol
Keterangan      :
0                    :Tidak nyeri
1-3       :Nyeri ringan :secara obyektif  klien dapat berkomunikasi dengan  
             baik .
4-6       :Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dan menunjukan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikanya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9       :Nyeri berat :secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikanya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10        :Nyeri sangat berat: Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul (Prasetyo,2010).
4.      Nyeri persalinan
1)      Tinjauan umum tentang nyeri persalinan
       Menurut Yanti (2010) nyeri persalinan adalah nyeri akibat kontraksi miometrium disertai mekanisme perubahan fisiologis dan biokimiawi.
        Nyeri persalinan sebagai suatu perasaan tidak menyenangkan yang merupakan respon individu yang menyertai dalam proses persalinan oleh karena adaya perubahan fungsi fisiologis dari jalan lahir dan rahim. Nyeri yang dirasakan sangat subyektif dan bersifat individual(Judha, 2012).
        Farer (2001) menyatakan bahwa dengan peningkatan kekuatan kontraksi, serviks akan tertarik, kontraksi yang semakin kuat ini juga membatasi pengalihan oksigen pada otot- otot rahim sehingga timbul nyeri iskemik.
2)      Tingkat nyeri persalinan
       Tingkat nyeri persalinan biasanya berhubungan dengan tingkat dilatasi serviks.Hal ini dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Grafik.2.3 tingkat nyeri dan dilatasi serviks.


 

                                                                                                                   
       0               2              4              6                8                 10
Sumber  :Moir PP,1986 pain relief in labour,dikutip oleh Farrer,2001
   Menurut Prasetyo (2010) tingkat nyeri persalinan dapat dibagi sebagai berikut:
(a)    Nyeri ringan
      Jika pasien menunjuk pada rentang skala 1-3 yaitu pasien masih bisa beraktifitas atau melakukan kegiatan dan aktifitas pasien masih jarang terpengaruhi.
(b)   Nyeri sedang
     Jika pasien menunjuk pada rentag skala 4-6 yang masih bias beraktifitas atau melakukan kegiatan tapi aktifitas ibu sudah terganggu.
(c)    Nyeri berat
      Jika pasien menunjuk pada rentang skala 7-10 yaitu ibu tidak dapat   melakukan kegiatan atau aktifitas apapun dan kadang-kadang disertai keluhan vegetatif seperti nyeri dikepala, kelelahan dan lain-lain.
3)      Dampak nyeri terhadap ibu dan janin
       Menurut Muhiman (1996) nyeri adalah rangsangan yang tidak enak dan   dapat merupakan penderitaan serta menimbulkan takut dan khawatir,hal ini dapat membuat ibu menjadi stress. Stres dalam persalinan menyebabkan peningkatan produksi adrenalin. Salah satu efek dari adrenalin adalah vasokontriksi yang mengakibatkan gangguan sirkulasi uterus dan hipoksia janin. Berkurangnya aliran darah menyebabkan berkurangnya kontraksi uterus yang mengakibatkan waktu persalinan terjadi hiperventilasi. Hiperventilasi yang berlebihan akan meningkatkan alkalemia (alkalosis respiratorik ) yang menguragi suplai oksigen .
5.      Penyebab Rasa Nyeri Persalinan
Rasa nyeri persalinan muncul karena :
1)      Kontraksi otot rahim
 Kontraksi  rahim menyebabkan dilatasi  dan penipisan servik  serta iskemia rahim akibat  kontraksi  arteri miometrium. Karena  rahim merupakan organ  internal  maka  nyeri yang timbul  disebut nyeri visceral. Nyeri visceral juga dapat dirasakan pada organ lain yang bukan merupakan asalnya disebut nyeri alih (reffered pain ) . Pada persalinan nyeri alih dapat dirasakan pada punggung bagian bawah dan  sacrum. Biasanya  ibu hanya mengalami rasa nyeri  ini  hanya selama  kontraksi  dan  bebas  dari  rasa  nyeri  pada interval antar  kontraksi  (Aprilia, 2011 ).
2)      Regangan otot dasar panggul
 Jenis nyeri ini timbul pada saat mendekati kala II .Tidak seperti nyeri Visceral ,nyeri ini terlokalisir di daerah vagina, rectum dan perineum, sekitar anus. Nyeri jenis ini disebut  nyeri  somatic dan   di sebabkan peregangan struktur jalan lahir bagian bawah akibat penurunan bagian terbawah janin. 
3)      Episiotomy
Pada  peristiwa episiotomy,  nyeri  dirasakan apabila  ada  tindakan episiotomy, tindakan ini dilakukan sebelum jalan  lahir  mengalami laserasi  maupun rupture pada jalan lahir .
4)      Kondisi Psikologis
       Nyeri dan rasa sakit  yang berlebihan akan menimbulkan rasa cemas. Takut, cemas, dan tegang memicu  produksi hormone  prostaglandin sehingga timbul stress. Kondisi stress dapat    mempengaruhi kemampuan tubuh menahan rasa nyeri .
6.      Faktor – Faktor yang mempengaruhi respon terhadap Nyeri persalinan
1)      Budaya
Menurut Piliteri (2003) dalam Judha (2012) Persepsi dan ekspresi terhadap nyeri persalinan  dipengaruhi   oleh budaya individu. Budaya    mempengaruhi  sikap  ibu   pada saat  Bersalin.
Menurut  Mulyati (2002)  bahwa budaya mempengaruhi ekspresi nyeri intranatal pada ibu primipara. Penting bagi bidan  untuk   mengetahui bagaimana kepercayaan, nilai, praktik budaya mempengaruhi seorang ibu dalam mempersepsikan dan mengekspresikan nyeri persalinan .
2)      Emosi (cemas dan takut )      
Stres  atau  rasa takut ternyata secara fisiologis  dapat   menyebabkan                 kontraksi  uterus  menjadi  terasa semakin nyeri dan  sakit  dirasakan.                Karena  saat  wanita   dalam   kondisi   inpartu   tersebut   mengalami    stress maka  secara otomatis  tubuh  akan   melakukan  reaksi defensif                sehingga   secara  otomatis   dari  stress   tersebut  merangsang   tubuh                mengeluarkan   hormone  stressor   yaitu  hormone Katekolamin  dan                hormone Adrenalin. Katekolamin ini akan dilepaskan dalam               konsentrasi tinggi saat persalinan jika calon ibu tidak bisa                menghilangkan   rasa takutnya  sebelum  melahirkan, berbagai respon                tubuh yang muncul  antara lain  dengan “bertempur atau lari “ (fight or 
 flight “ ).  Dan   akibat respon  tubuh   tersebut  maka uterus  menjadi  semakin tegang sehingga aliran  darah dan  oksigen ke  dalam   otot -  otot uterus berkurang karena arteri mengecil dan menyempit akibatnya adalah rasa nyeri yang tak  terelakkan. Maka dari itu, ketika  ibu yang sedang  melahirkan  ini  dalam  keadaan  rileks  yang   nyaman, semua  lapisan otot dalam  rahim akan  bekerjasama  secara   harmonis seperti   seharusnya. Dengan begitu persalinan akan berjalan lancar, mudah dan    nyaman. Apabila ibu sudah terbiasa dengan latihan relaksasi, jalan lahir    akan  lebih  mudah  terbuka. Sebaliknya, apabila  ibu  dalam  keadaan  tegang, tekanan kepala janin tidak akan membuat mulut rahim terbuka. Yang dirasakan  hanyalah rasa sakit  dan sang ibu  pun bertambah  panik dan stress. Pada  saat tubuh  dalam  keadaan  stress, hormone  stress  yaitu katekolamin   akan  dilepaskan, sehingga  tubuh memberikan  respon untuk”bertempur atau lari”. Namun sebaliknya dalam kondisi yang rileks justru bisa memancing keluarnya hormon endofrin, penghilang rasa sakit yang alami di dalam tubuh. Menurut para ahli,   endorfin ini  efeknya  200 kali lebih kuat dari pada morfin.
3)      Pengalaman Persalinan
Menurut Babak (2000)  dalam Judha (2012) pengalaman melahirkan  sebelumnya   juga dapat mempengaruhi respon ibu  terhadap   nyeri.  Bagi  ibu  yang  mempunyai pengalaman    yang      menyakitkan    dan     sulit     pada        persalinan sebelumnya,   perasaan  cemas  dan  takut   pada  pengalaman  lalu  akan mempengauhi sensitifiasnya rasa nyeri.
4)      Support system
Dukungan dari pasangan,keluarga maupun pendamping persalinan dapat membantu memenuhi kebutuhan ibu bersalin,  juga membantu mengatasi rasa nyeri (Martin,2002).
5)      Persiapan persalinan
Persiapan persalinan tidak menjamin persalinan akan berlangsung tanpa nyeri.Namun,persiapan persalinan diperlukan untuk mengurangi perasaan cemas dan takut akan nyeri persalinan sehingga ibu dapat memilih berbagai teknik atau metode latihan agar ibu dapat mengatasi ketakutannya.          
7.      Nyeri persalinan dan Respon Fisiologis
Nyeri yang menyertai  kontraksi uterus mempengaruhi mekanisme             fisiologis sejumlah sistem tubuh (Mander ,2004 ), antara lain :
(a)    Ventilasi
Nyeri yang menyertai kontraksi uterus menyebabkan hiperventilasi.
Hiperventilasi menyebabkan penurunan kadar PaCO2 dan konsekwensinya adalah peningkatan kadar Ph yang konsisten . Salah satu bahaya kadar PaCO2 bagi janin menyebabkan menjadi lambannya denyut janin. Hiperventilasi dapat mempengaruhi keseimbangan asam basa sistem sirkulasi ,menghasilkan alkalosis dengan Ph 7,7 dan diatas7,5. Bahaya  nyata  alkalosis  selama persalinan adalah menurunnya transfer oksigen bagi janin .
(b)   Fungsi kardiovaskuler
Curah jantung meningkat secara progresif seiring dengan majunya persalinan  karena  nyeri  persalinan . Peningkatan  tersebut dapat sebesar 15-20% diatas curah jantung sebelum persalinan selama awal kala I dan sebesar 45-50% selama kala II . Telah diperkirakan bahwa setiap kontraksi uterus meningkatkan curah jantung 20-30% lebih tinggi dari pada saat relaksasi uterus .Peningkatan curah jantung sebagian disebabkan oleh fakta bahwa setiap kontraksi kurang lebih 250-300 ml darah dialirkan dari uterus kedalam sirkulasi maternal. Juga dimungkinkan bahwa peningkatan aktifitas simpatis akibat nyeri persalinan ,kecemasan dan ketakutan mungkin bertanggungjawab dalam peningkatan curah jantung dengan makin majunya persalinan .
(c)    Efek metabolisme
Peningkatan aktifitas simpatis yang disebabkan nyeri persalinan dapat menyebabkan peningkatan metabolism dan konsumsi oksigen serta penurunan motilitas saluran cerna dan kandung kemih. Nyeri dan kecemasan yang menyertai persalinan dapat menyebabkan kelambatan pengosongan lambung. Peningkatan konsumsi oksigen dan kehilangan natrium bicarbonate melalui ginjal untuk mengompensasi alkalosis respiratorik yang menyebabkan nyeri persalinan berperan dalam status asidosis metabolik yang kemudian juga akan dialami oleh janin.
(d)   Stres yang disebabkan oleh nyeri persalinan telah dikaitkan dengan peningkatan pelepasan ketokolamin maternal yang akan menyebabkan penurunan aliran darah uterus. Terjadi juga peningkatan kadar adrenalin/ noradrenalin. Salah satu efek samping peningkatan kadar adrenalin adalah penurunan aktifitas uterus yang dapat menyebabkan persalinan lama .
(e)    Efek hormon lain
Nyeri dan faktor yang berkaitan dengan stress diketahui mempengaruhi pelepasan hormon beta-endorfin-lipotropin  dan hormon adrenokortikotropik (ACTH). Beta lipotrofin merupakan zat endogen dengan sifat seperti morfin. Beta endorphin merupakan kelompok beta lipotrofin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis . Zat ini bekerja sebagai pembawa kimia dan bekerja sebagai analgesia. Sedangkan ACTH yang meningkat akan meningkatkan serum kortisol yang menyebabkan penurunan aktifitas uterus .
(f)    Aktivitas Uterus
Nyeri persalinan dapat mempengaruhi kontraksi uterus melalui sekresi kadar katekolamin dan kortisol yang meningkat dan akibatnya mempengaruhi durasi persalinan. Noradrenalin, misalnya telah meningkatkan aktifitas uterus sedangkan adrenalin dan kortisol menyebabkan penurunan aktifitas yang akan menyebabkan persalinan lama .
8.      Pengurangan Rasa Sakit (Pain relief )
Sujiyatini (2011)  menyatakan   bahwa  berdasarkan  hasil  penelitian         pemberian  dukungan  fisik , emosional, dan  psikologis  selama persalinan         akan dapat membantu mempercepat proses persalinan   dan membantu ibu         memperoleh kepuasan dalam  melalui proses  persalinan  normal .  Metode         mengurangi rasa nyeri yang dilakukan secara terus -  menerus dalam bentuk dukungan harus  dipilih yang bersifat sederhana,  biaya rendah, membantu        kemajuan  persalinan ,  hasil kelahiran  bertambah baik dan  bersifat sayang        ibu .
                   Menurut Varney , pendekatan  untuk mengurangi  rasa sakit dapat
      dilakukan  dengan cara :
a)      Menghadirkan  seseorang    yang  dapat  memberikan  dukungan  selama
persalinan (suami ,orang tua )
b)      Pengaturan   posisi :  duduk   atau  setengah  duduk,  posisi   merangkak,
berjongkok atau berbaring miring ke kiri .
c)      Relaksasi dan pernafasan
d)     Istirahat dan privasi
e)      Penjelasan mengenai proses /kemajuan / prosedur yang akan dilakukan.
f)       Asuhan diri
g)      Sentuhan
     Beberapa teknik dukungan untuk   mengurangi   rasa   sakit   menurut
     Sujiyatini (2011) antara lain :
a)      Kehadiran seorang  pendamping   yang   terus  menerus ,   sentuhan  yang
nyaman ,dan dorongan dari orang yang memberikan support.
b)      Perubahan posisi dan pergerakan .
c)      Sentuhan dan massase
d)     Couterpressure untuk mengurangi tegangan pada ligamen.
e)      Pijatan ganda pada pinggul.
f)       Penekanan pada lutut.
g)      Kompres hangat dan kompres dingin .
h)      Berendam.
i)        Pengeluaran suara .
j)        Visualisasi dan pemusatan perhatian (dengan berdo’a ).
k)      Musik yang lembut dan menyenangkan ibu.
l)        Terapi aroma
Pilihlah aroma yang tepat bisa membantu meredakan ketegangan dan membuat anda merasa nyaman.
m)    Hipnoterapi
Pada bulan terakhir kehamilan cobalah untuk berlatih hipnoterapi dengan
bantuan tenaga ahli .Ini bisa digunakan pada saat persalinan ,untuk mengontrol rasa nyeri lewat sugesti positif yang anda tanam dalam pikiran.
8) Penanganan nyeri persalinan secara non farmakologis
              Tiga sistem penanganan secara non-farmakologi yang dikemukakan
     Melzack dalam Mander 2004 yaitu :
a)      Sistem pembagian sensorik
          Untuk   menurunkan   nyeri   dapat  digunakan  system  pembagian
sensorik  dengan  3 reseptor  perifer  yaitu  mekanoreseptor ,  termoreseptor
dan kemoreseptor.Persepsi nyeri dapat berkurang karena informasi sensorik
akan mencapai otak sebelum informasi nyeri .Yang termasuk dalam system
ini antara lain stimulasi kulit. Stimulasi kulit ini mengaktivasi serat diameter besar yang akan menutup stimulus nyeri.Stimulasi kulit dapat dilakukan  dengan  massage,transcutaneus electrical neural stimulation dan
         kompres suhu  hangat  atau  dingin . Metode ini  menghasilkan  penurunan
         nyeri yang memanjang .  Hal ini  didasarkan  pada  teori  bahwa  stimulasi
         dapat menghasilkan cairan alami endorpin untuk mengurangi nyeri .
b)      Sistem motifasi efektif
        Sistem   motifasi   afektif    akan   menyebabkan   respon   siap  siaga
terhadap nyeri .Sistem ini juga  berguna sekali  dalam upaya  menurunkan
nyeri .Yang termasuk dalam sistem ini diantaranya adalah relaksasi.
c)      Sistem  Evaluasi Kognitif
        Rasionalisasi  dari  penggunaan  system  ini  belajar  tentang  perilaku
Baru  untuk  mereseptor  nyeri  dan stress ,  sehingga dapat meningkatkan
sistem kontrol terhadap  nyeri dan  mengurangi  nyeri  serta  pikiran  yang
berhubungan dengan nyeri.Adapun yang termasuk dalam sistem ini adalah
pemusatan perhatian ,guided imagery dan latihan nafas dalam ,musik, dukungan dan pemberian informasi secara verbal serta distraksi.
3. Konsep  Akupresur
     a. Definisi Akupresur
          Akupresur adalah satu bentuk fisioterapi  dengan memberikan  pemijatan
          dan stimulasi pada titik- titik tertentu pada tubuh (garis aliran energi atau
         meridian )    untuk   menurunkan  nyeri   atau  mengubah   fungsi   organ .
         (Widyaningrum,2013).
   b. Tujuan Akupresur
                Mengurangi ketidaknyamanan selama    hamil dan saat kontraksi datng.
        Akupresur seperti halnya akupuntur     merupakan terapi yang menekankan
       titik-titik  tertentu  pada tubuh yang  diyakini  dapat  mengatasi  rasa  tidak   
       nyaman   selama   hamil   maupun   saat  mengalami   kontraksi   menjelang
       persalinan. Saat hamil  pun ,akupresur  bisa    mengurangi morning sickness
       yang melanda. Sedangkan pada  kondisi   menjelang  persalinan ,  akupresur  
       selain    untuk   meringankan   rasa  sakitnya      juga   untuk  meningkatkan  
       intensitas   kontraksi itu sendiri (Turana,2004 ).
                Akupresur merupakan pengembangan dari teknik akupuntur yang sangat
        membantu ibu hamil pada saat proses persalinan . Akupresur  memberikan
        rasa    nyaman  selama proses persalinan  atau  merelaksasi . Pada sebagian                  
        orang  ,akupresur  ini  juga  dikenal  banyak digunakan untuk    merangsang
        kontraksi atau mendorong kemajuan kontraksi agar pembukaan lebih cepat
     terjadi dan ibu merasa nyaman saat proses persalinan berjalan (Turana,2004). c. Manfaat Akupresur
    Sejarah membuktikan bahwa akupresur bermanfaat untuk :
1)      Pencegahan penyakit
Akupresur dipraktekan secara teratur pada saat-saat tertentu menurut aturan yang sudah ada ,yaitu sebelum sakit . Tujuannya adalah mencegah masuknya sumber penyakit dan mempertahankan kondisi tubuh.
2)      Penyembuhan penyakit
Akupresur dapat digunakan untuk menyembuhkan keluhan sakit dan dipraktekan ketika dalam sakit.
3)      Rehabilitasi
Akupresur dipraktekan untuk meningkatkan kondisi kesehatan sesudah sakit.
4)      Promotif
Akupresur dipraktekan untuk meningkatkan daya tahan tubuh walaupun tidak sedang sakit (Oka,2003).
d. Persiapan Terapi Akupresur
     Ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan agar pemanfaatan akupresur
     baik yaitu : ruangan tempat melakukan pemijatan hendaknya tidak pengap dan
    mempunyai sirkulasi  udara  yang  baik , pemijatan  dilakukan di tempat yang
    bersih, posisi orang yang akan dipijat sebaiknya  berbaring ,duduk, dan  tidak
     berdiri ,tangan sebelum memijat dicuci bersih dan kuku jari tidak panjang serta
    tidak   tajam , pemijat  dalam  keadaan  bebas   bergerak dengan  posisi  yang
     nyaman ,kondisi pasien yang perlu diperhatikan  sebelum  melakukan  terapi
     akupresur adalah sebaiknya pasien tidak  dalam keadaan emosional ( marah,
     takut ,terlalu gembira ,atau sedih), tidak  terlalu lapar  atau  terlalu  kenyang,
     Pemijatan dapat dilakukan dengan ujung - ujung jari ,kepalan tangan,telapak
     tangan pangkal telapak tangan dan siku,titik  acupoint  tidak dalam  keadaan
     luka atau bengkak ,dan untuk pasien yang lemah kondisinya akupresur hanya
     diperlukan untuk menguatkan kondisinya dan jumlah titik yang dipergunakan
    jangan terlalu banyak (Oka,2003).   Penekanan pada saat awal harus dilakukan
   dengan  lembut ,  kemudian   secara   bertahap kekuatan  penekanan ditambah
   sampai terasa sensasi yang ringan   tetapi tidak sakit(Turana,2004).
e. Lokasi Titik Akupresur saat persalinan untuk mengurangi nyeri
    Cara kerja  akupresur  ini  sendiri cukup  mudah  dan  sederhana karena tidak
     memerlukan bantuan jarum akupuntur .Cukup dengan menekan pada titik-titik
    tertentu sesuai dengan tujuan untuk apa akupresur dilakukan .
    1)Akupresur untuk meningkatkan intensitas  kontraksi disebut dengan istilah
      Spleen 6 dan hoku  atau usus besar 4.Spleen 6 dapat  ditemukan  empat jari
      lebarnya di atas tulang pergelangan kaki .




     Letakan 4 jari di atas mata kaki di bagian kaki . Lalu tekan selama satu menit
    dengan ibu jari ,yaitu di bagian belakang tulang kaki kanan bergantian dengan
    kaki kiri. Atau bersamaan secara simultan .Gerakan ibu jari naik turun sedikit
    atau dalam bentuk lingkaran kecil (Klein &Thompson,2009).
2) Hoku atau L14 adanya di jaringan antara jempol dan jari telunjuk.



    Letakan  jari di telapak tangan pasien  dan ibu  jari di luar     telapak  tangan .
    Tekan perlahan  secara  bersamaan  kiri  dan  kanan . Titik  ini sangat dikenal
     banyak orang dan sangat efektif untuk menghilangkan sakit kepala .Lanjutkan
    menekan titik- titik  ini  dengan berhenti  sejenak  dan hentikan  jika  kekuatan
    kontraksi sudah meningkat. Titik-titik ini akan  makin  efektif jika dipadukan
    dengan teknik   untuk meningkatkan kontraksi  seperti  mengelus  pusar  pasien.
    Titik akupresur ini akan bekerja sangat efektif  jika  air  ketuban  sudah pecah  
    Sementara  itu  kontraksi  belum juga  mengalami kemajuan .  Karena   tujuan  
    Akupresur  ini  lebih  ditujukan  untuk  merangsang  kontraksi  lebih cepat dan   
    mengurangi rasa sakit saat kontraksi berlangsung.
3) Dua titik pada tangan bisa meringankan sakit saat kontraksi


4)Juga dapat mencoba satu titik pada bahu yang disebut Gallbladder 21.

     Dapat menempatkan Gallbladder 21 dengan cara menekan ibu jari pada bahu dekat kearah leher,satu -dua inchi agak ke bawah leher .Dua titik ini sangat mudah dilakukan .Tekan dengan keras selama 60 detik atau hitung sampai angka 30. Berhentilah 2-3 menit, lalu tekan lagi .
5) Ada beberapa titik sacral dikenal dengan istilah  Bladder 27-34 pada   tulang
     punggung bagian bawah yang juga sangat efektif untuk mengatasi   sakit  saat
     kontraksi termasuk saat terasa kontraksi   ini   merambat  sampai  ke  bagian
     pinggang bagian bawah menuju ke arah paha .


     Untuk mengurangi rasa  sakit  itu ,suami atau bidan yang  mendampingi  bisa
     mengelus dan sedikit menekan  di dekat  tulang ekor  untuk  merangsang titik
     akupresur .  Jika   kesulitan   menemukan  titik  akupresur ini  bisa dilakukan
     memakai bola tenis atau kepalan tangan merangsang daerah tulang punggung
     bagian bawah .
6)Titik K1
     Titik ini terletak pada 1/3 bagian atas telapak kaki ,ketika telapak kaki fleksi
    (menarik jari kaki ke depan kearah telapak kaki ).



Lakukan penekanan yang kuat  ke  dalam  dan ke   depan  kearah   jempol   kaki .
Titik  ini mempunyai   efek    relaksasi dan  dapat   digunakan   kapan saja saat
persalinan. Penekanan  pada titik ini juga   dapat   berguna   saat   pasien panik
(misal  mempunyai  pengalaman yang   tidak   menyenangkan  pada  persalinan
sebelumnya ).Titik ini   berguna untuk membantu   menenangkan  wanita   yang
merasa ketakutan ( Turana,2004).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar